Minggu, 02 April 2023
Karya Kepala Sekolah Bulan Ke-5
Karya Guru Pembimbing 3 Bulan Ke-5
Karya Guru Pembimbing 3
Bulan Ke-5 (1 Maret s.d 31 Maret 2023)
Lani Mulyani, S.Pd
MENTARI
Hai mentari
Kala kau hadir
Beribu senyum terbit
Hadir menghiasi pagi
Tak terkecuali
Embun menetes membasahi sanubari
Hanya satu pintaku
Tetap hadir di sini
Andaikan waktu terjeda untuk terus menyaksikannya mentari
Menyapa kesunyian
Yang dibuat malam sebelumnya
Mentari..
Suatu yang indah tak terkecuali
Indahnya tuhan
Apakah akan sama dengan masa depan?
Ku harap terus gemilang bercahaya bagai mentari yang tak pernah redup
Hinggaplah dalam pelukku
Mentari yang indah setiap waktu
Kisah indahnya mentari
Tak akan pernah berlalu
Karya Guru Pembimbing 2 Bulan Ke-5
Karya Guru Pembimbing 2
Bulan Ke-5 (1 Maret s.d 31 Maret 2023)
Hanifah Munfarijah, S.Pd, Gr
Puisi
💦💦💦💦
TAK ADA
Ku menatap dengan senyum
Mencoba mengerti
dan menenangkan diri
agar hati tak terlibat emosi
Ku terdiam
Kala caci terdengar menyalahkan diri
Apalah daya ku ini
Tak ada
Semua akan seperti pecahan kaca
Jika aku turut berlomba
Mengejar hasrat untuk membalut luka
Melempar kata untuk menutup rasa
Tak ada
Memang seharusnya tak ada
Tapi keadaan selalu mendua
Mencipta emosi dalam nada
Sehingga tak ada lagi kata
Hanya pandangan mata yang kurasa tetap ada
😇😇😇
Karya Guru Pembimbing 1 Bulan Ke-5
Karya Guru Pembimbing 1
Bulan Ke-5 (1 Maret s.d 31 Mret 2023)
Novy Citra Pratiwi, S.Pd
Sabtu, 01 April 2023
Karya Kepala Sekolah Bulan Ke-4
Karya Kepala Sekolah
Bulan Ke-4 (1 Februari s.d 28 Februari 2023)
SEBUAH KISAH
Oleh : H. Maman Abdurahman, S.Pd.,M.Si
Dipenghujung amanah ini
Ingin ku abdikan hanya karena Mu
Tak sekedar mengakhiri tugas ku
Tapi menjalaninya dengan sungguh
Bila ku menoleh masa yang telah terlewat
Kadang ku tertunduk mengingatnya penuh seluruh
Kisah itu telah terlewat begitu cepat
Berkelebat dan kadang berhenti di satu alur cerita
Kadang senyum menyertai ingatan ku
Kadang tangis tak terasa juga
Kisah ku ….
Inilah kisah ku …
Inilah perjalanan ku ….
Inilah ceritaku …
Penuh liku
Kau pun tentunya punya
Sebuah kisah
Sama seperti ku
Karya Kepala Sekolah Bulan Ke 3
Karya Kepala Sekolah
Bulan Ke-3 (1 Januari s.d 30 Januari 2023)
Oleh : H. Maman Abdurahman, S.Pd.,M.Si
Perjalanan hidup
Akan berlalu dengan sangat cepat
Seperti kedipan mata
Yang kadang tak terasa
Semua akan penuh hikmah
Jika kita mampu berserah
Menjalaninya penuh syukur
Sebagai tanda khidmat kepada Sang Pengatur
Waktu kita takkan selamanya
Kisah kita takkan bertahan selamanya
Semua pasti menemui akhir
Waktu dunia kita …
Kala mata memandang langit
Menahan silau cahaya matahari
Apakah kau akan mampu …
Menghalangi waktu menjemput mu ????
Minggu, 26 Februari 2023
Karya Guru Pembimbing 3 Bulan Ke-4
Karya Guru Pembimbing 3
Bulan Ke-4 (1 Februari s.d 28 Februari 2023)
Lani Mulyani, S.Pd
Judul:
Sang Waktu
Berjuta waktu telah kita lalui
Jarak yang kita tempuhpun sudah cukup jauh
Alangkah senangnya kita selalu bersama
Semua ini pasti akan menjadikan sebuah kenangan.
Sang waktu
Akan selalu mengajarkan kita banyak hal
Sang waktupun selalu berpihak pada kita
Sang waktupun selalu mengajarkan kita arti kesabaran.
Teruntuk waktu
Kenapa terlalu cepat berlalu?
Akankah bisa perputar untuk kedua kalinya?
Agar kita bisa mengulangi waktu yang begitu indah.
Karya Guru Pembimbing 2 Bulan Ke-4
Karya Guru Pembimbing 2
Bulan Ke-4 (1 Februari s.d 28 Februari 2023)
Hanifah Munfarijah, S.Pd, Gr
Jenis Karya: Puisi
Judul :
TANDA TANYA
Tak tertahan
Kadang sulit untuk meraba apa yang dirasa
Sulit menerka apa yang diinginkan
Selalu saja ada tanda tanya
Tanpa makna
Bukannya aku tak peduli
Ataupun tak mau merubah apa yang telah ada
Tapi akupun tak mengerti
Mengapa seperti itu
Selalu saja ada tanda tanya
Tanpa jawaban
Kalaupun boleh
Jawaban itu pun ada
Atas tanda tanya
Yang terasa mengukir resah
Kalaupun boleh
Jawaban itu pun ada
Agar aku tak lupa
Dan hilang arah
Agar yang ada
Tak sekedar tanda tanya
Karya Guru Pembimbing 1 Bulan Ke-4
Karya Guru Pembimbing 1
Bulan Ke-4 (1 Februari s.d 28 Februari 2023)
Novy Citra Pratiwi, S.Pd
Judul : Punggung Paling Kuat Di Dunia
Jenis karya : Puisi
Mungkin sosok kuatnya sudah berubah termakan waktu
Rapuh, kau bisa sentuh genggamannya yang gemetar.
Mungkin punggung kuatnya melemah tertimpa banyak beban
Bungkuk, kau bisa lihat langkahnya yang melengkung.
Dia jarang memelukmu
Mungkin juga tidak pernah mengatakan cinta
Dia jarang menggenggam tanganmu
Mungkin juga tidak pernah menatapmu penuh cinta
Ayah, nama sosok malaikat itu.
Tidak terlihat pengorbanannya,
tapi percayalah dia menjadi yang paling berdarah untuk memperjuangkan hidupmu.
Tidak terlihat bagaimana keluh kesahnya,
tapi percayalah dia yang memiliki punggung paling kuat di dunia untuk hidupmu.
Senin, 30 Januari 2023
Karya Guru Pembimbing 3 Bulan Ke-3
Karya Guru Pembimbing 3
Bulan Ke-3 (1 Januari s.d 30 Januari 2023)
Lani Mulyani, S.Pd
Judul:
Semangat mulai merapuh
Awal kata yang tak tau apa itu semangat
Mulai mengarungi dengan terus mencoba
Namun keyakinan itu mulai pudar
Harapan pun mulai sirna.
Tuhan
Aku tak berdaya
Aku tak bisa memilih dengan keyakinan yang ada dipikiranku,
Karena memilih itu sulit.
Tuhan...
kenapa dengan pikiran ini
Samarkan keinginan yang selalu datang keraguan.
Hati selalu menjerit seakan mimpi itu terasa jauh
Tuhan berikan selalu petunjuk
Agar aku bisa memilih yang terbaik
Karya Guru Pembimbing 2 Bulan Ke-3
Karya Guru Pembimbing 2
Bulan Ke-3 (1 Januari s.d 30 Januari 2023)
Hanifah Munfarijah, S.Pd, Gr
Jenis Karya: Puisi
Judul :
RASANYA
Mencoba membuka tirai lewat deras hujan
Tapi tak jua ku lihat pelangi
Bergelut dengan pikiran
Mencoba mencari jawaban
Ah ...
Rasanya bosan
Mengundang awan tak kunjung datang
Terik ini terasa begitu panjang
Terus menggoda untuk meronta
Mungkin harus kuluapkan
Atau ...
Ku hentakkan kaki saja
Atau ...
Diam saja
Ah ...
Rasanya tak stragis itu
Dikedalaman hati asa ini tetap terpatri
Menunggu mereka untuk berlari
Menjadi diri yang mandiri
💖💪
Karya Guru Pembimbing 1 Bulan Ke-3
Karya Guru Pembimbing 1
Bulan Ke-3 (1 Januari s.d 30 Januari 2023)
Novy Citra Pratiwi, S.Pd
Judul : Segmen Waktu
Jenis karya : Cerpen
Aku selalu mengambil tempat yang
jarang terjangkau keramaian. Karena, dengan begitu aku bisa kembali mengenang
banyak hal tentangnya dengan begitu baik. Ada selembar kertas yang dia tinggalkan di kenangan hari itu, yang membuatku tersenyum karena ada namaku dalam guratan-guratan tinta
yang dia tulis di atasnya.
Pertama kali aku mengenalnya, aku
segera menge-capnya sebagai ‘Si Anak Bengal’ yang tidak pernah ingin kusebut namanya.
Penampilannya urakan, pakaiannya tidak pernah dan tidak akan rapi sampai Guru
BP meneriaki namanya dan menghukumnya. Dia datang sebagai
anak baru saat aku berada di sekolah menengah atas, kami berada di kelas yang
sama. Aku tidak membencinya, tapi mungkin saja dia sudah menandaiku sebagai musuh
di kali pertama pertemuan kami tanpa alasan yang kuketahui.
Dia sudah tujuh kali masuk ruangan
BP saat baru bersekolah selama tiga bulan. Dan kebanyakan aku terlibat di
dalamnya.
Aku begitu ingat, saat itu panas matahari
yang terik tengah menyiram lapangan upacara. Ruang terbuka yang dikelilingi oleh
bangunan kelas berbentuk huruf U itu seakan menyala, memberi tahu, atau bahkan
mengancam, siapa pun yang menjejaknya, dia akan terbakar. Namun, aku tidak bisa
menghindarinya. Aku berlama-lama diam di lapangan upacara untuk menurunkan
tasku yang berada jauh di pucuk tiang bendera. Si Anak Bengal yang tidak mau
kusebut namanya itu memberi tahu dengan secarik kertas bahwa dia baru saja menggerek
tasku menggantikan posisi bendera latihan yang sejak jam istirahat berkibar.
Saat berhasil kuturunkan, dari balkon
lantai dua, suara tepuk tangan terdengar. Si Anak Bengal itu bersorak untuk
keberhasilanku. Sebagai gantinya, aku mengacungkan kepalan tangan dengan mata
melotot, memberi tahu bahwa aku akan mengejarnya untuk memberikan tinju.
Sesaat setelah aku berlari dari
lapangan upacara untuk mengejarnya, aku dapati Si Anak Bengal itu tertawa dan kabur
dari kejaranku.
Hari berikutnya, aku ingat saat itu
hujan turun begitu deras dan aku hanya bisa menunggu reda di bawah naungan
kanopi halte sekolah. Sepi, orang-orang sudah menaiki jemputan dan berbagai
angkutan umum sementara aku masih menunggu bus yang biasa mengantarku pulang.
Namun, tiba-tiba sebuah tarikan di pergelangan tangan membuat tubuhku berbaur
dengan air hujan. Si Anak Bengal itu pelakunya, dia tertawa begitu keras
melihat wajahku yang panik karena dalam sekejap tubuhku basah kuyup oleh air hujan.
“Semua bukuku basah!” teriakku.
Dia, anak laki-laki itu, segera mengeluarkan
jaketnya dari dalam tas dan merungkupkannya ke kepalaku. Setelahnya, dia
menarik tanganku, mengajakku ke arah parkiran untuk menemukan motornya yang terparkir
di sana. Lalu, "Aku antar pulang,” ujarnya, tanpa meminta persetujuanku.
Setelahnya, aku tidak menemukan keberadaan Si
Anak Bengal selama satu minggu di sekolah. Seharusnya hidupku tenang, karena
aku tidak lagi menemukan masalah dalam hidupku selama tujuh hari ini. Namun,
saat aku sedang berada di salah satu sudut ruangan perpustakaan, tiba-tiba saja
seseorang hadir dan duduk di sisiku.
Si Anak Bengal itu lagi, dia datang entah
dari mana asalnya, karena sejak tadi aku sibuk menekuri buku yang halamannya
tidak kubuka sejak sepuluh menit lalu. “Aku cari-cari kamu,” ujarnya. Tiba-tiba
saja dia mengeluarkan sepasang earphone dan menyelipkannya satu di telingaku. Setelah
itu, tanpa menunggu responsku, dia bergerak menelungkup, menyimpan wajah di
antara dua lengannya yang terlipat.
Ada suara lagu yang mengalun dari earphone
di telinga kiriku, berbaur dengan suara air hujan di luar jendela yang kacanya
terbuka, angin bertiup, menampakkan Taman Botani sekolah yang kini basah dengan daun yang
bergoyang-goyang diterpa angin dan air.
Sejak hari itu, aku tidak tahu apa
yang terjadi, tapi setiap hari, saat datang ke sekolah hal yang pertama
kulakukan adalah memeriksa kehadirannya. Dan hari ini, sudah sepuluh hari dia
tidak datang ke sekolah sejak kami menghabiskan waktu berjam-jam berdua di
perpustakaan untuk melihat air hujan.
Waktu pulang sekolah tiba. Aku berjalan
di trotoar setelah melewati gerbang sekolah. Ada tawa dan obrolan yang saling
bertumpang tindih, bising, sementara aku mengurung diri dalam duniaku sendiri. Ke
mana perginya Si Anak Bengal selama sepuluh hari ini? Kenapa dia tidak datang
ke sekolah dan tidak lagi menggangguku?
Lalu, tiba-tiba saja sebuah mobil
menepi. Pintunya yang terbuka membuat langkahku terhenti, seorang wanita paruh
baya turun dan berjalan ke arahku. Tersenyum. Dia bertanya, “Windry, ya?” Setelahnya,
dia mengenalkan diri. Bicara akan banyak hal. Lalu, pergi meninggalkanku bersama
selembar kertas yang dia berikan.
Ada kalimat yang dia ucapkan sebelum
benar-benar pergi, “Gilang sudah pergi dengan tenang setelah melewati sakit
kanker yang menyakitkan. Tapi … terima kasih karena sudah menjadi alasan Gilang
bertahan."
Gilang, nama Si Anak Bengal itu, dan
wanita paruh baya tadi adalah ibunya.
Aku tertegun, terpaku di antara lalu
lalang orang-orang. Tanganku yang gemetar membuka selembar kertas yang
kuterima. Di dalamnya, kubaca pelan-pelan.
Gilang’s Notes
TO DO LIST:
1.
Sekolah.
![]()
2.
Menjadi
anak nakal dan masuk ruang BP. ![]()
3.
Menjahili
cewek paling pintar di kelas. ![]()
4.
Membonceng
cewek ketika hujan. ![]()
5.
Masuk
ke perpustakaan. ![]()
6.
Melihat
hujan berdua. ![]()
7.
Jatuh
cinta. ![]()
8. Terima
kasih, Windry.
Kututup kertasnya. Empat tahun sudah
berlalu. Dulu, sering aku lewati dengan tangisan jika mengingatnya. Namun kali ini …
aku tersenyum. Karena ... setiap membaca kertas itu, aku tahu bahwa setiap
segmen yang Gilang lewati, aku hadir di dalamnya. Dan akhir dari segmen
waktunya, dia jatuh cinta, padaku.
Selasa, 13 Desember 2022
Karya Guru Pembimbing 2 Bulan Ke-2
Karya Guru Pembimbing 2
Bulan Ke-2
Hanifah Munfarijah, S.Pd, Gr
Jenis Karya: Cerpen
Judul :
DIALOG HATI
“Percakapan kadang terjadi dengan
hati mu, untuk menemukan solusi
Kaupun bercengkarama dengan pikiran
mu”
Langit sudah mulai mendung, awan-awan hitam tampak menghiasi membentuk pola gumpalan pekat disertai angin. Akhir-akhir ini cuaca sudah tidak bersahabat. Terkadang terik dipagi hari, berganti dengan guyuran hujan yang cukup deras sampai malam hari.
Aku bergegas menuruni anak tangga yang menuju ruangan ku, tak ingin berlama-lama karena hujan nampaknya akan segera turun. Baru saja aku sampai di mejaku, eh ternyata hujan sudah mulai turun dengan cukup derasnya. Hmmm…sepertinya aku harus sabar menunggu. Yah…sudahlah aku duduk saja dulu menunggu hujan reda.
Alunan suara hujan terdengar cukup jelas, membuat melodinya sendiri, menjadi karakter musik dan menghantarkan ku untuk berpikir, mengingat, dan merenung sejenak berdialog dengan hati tentang apa yang sedang terjadi.
Kadang bukan sekedar ingin berlari, tapi rasanya ingin pergi tak kembali tanpa menoleh lagi. Tapi apalah daya kenangan itu seakan tak mengizinkan ku pergi seutuhnya, seperti jalan ditempat, perubahan hanya terjadi beberapa saat, yang berbeda hanyalah ritme dan saura hentakannya saja.
Aku menarik napas dalam-dalam, hanya untuk menghempaskannya menghilangkan rasa kesal yang sedari tadi mengungkung kebebasan ku untuk tertawa. Sebal rasanya bila sudah berada diposisi seperti ini, sungguh dilema, selalu serba salah, tetapi sialnya tuntutan itu akulah yang memilihnya dan dengan suka rela akupun menerimanya. Huft…Sudahlah memang harus kujalani walaupun kadang tersa berat.
“Berat ….?”
“Hai apa maksud mu ….?”
“Kalau kau menganggapnya beban, tentu saja semuanya akan sia-sia, semua takkan berubah hanya dengan mengeluh saja. Ayolah jangan menarik diri mu untuk bersembunyi dibalik tirai alasan, karena seribu langkah didepan selalu diawali dari satu langkah pertama, bukankah begitu …?”
Akupun terdiam memikirkan apa yang harus kulakukan untuk langkah selanjutnya. Tentu saja keputusan yang diambil haruslah bermanfaat untuk ku, keluarga ku, dan orang disekitarku. Benar aku tak ingin semuanya sia-sia, berlalu tanpa arti.
“lalu apa yang harus aku lakukan, jalan mana yang harus ku tempuh?”, beribu fatamorgana mengajakku berpikir keras agar tidak terjebak pada atmosfer ilusi.
“Tak perlu menjadi hebat untuk memulai sesuatu, tetapi beranilah untuk memulai supaya kau tahu seberapa mampu diri mu. Kau takkan tau akhirnya tanpa memulainya”
“Tapi kadang ragu itu datang mendera, benar?”
“Tentu saja”
Keraguan adalah hal wajar yang dirasakan, karena kita tentunya memiliki beberapa pertimbangan dalam melakukan sesuatu, apalagi terhadap hal penting dan menyangkut banyak orang.
Tentu saja, kadang kita akan merasa ragu. Disanalah dibutuhkan kematangan dan kedewasaan berpikir.
“Berpikir …”
Didalam Al-Qur’an sendiri perintah berpikir ini berulang kali ditegaskan agar terus diamalkan dan diulang-ulang dalam banyak ayat. Seperti QS. Al-Hasyr [59] ayat 2 yang artinya “maka berpikirlah, wahai orang-orang yang berakal budi”. Tak ada salahnya jika merasa ragu karena kita memang perlu berpikir. 😊
Tak terasa dialog ini sudah cukup lama dan panjang, hujanpun di luar sudah mulai reda. Aku bergegas membereskan perlengkapan kerja ku kedalam tas ransel, sambil sesekali mengecek pesan di whatsapp yang dari tadi belum aku baca. Ah banyak juga pesan yang masuk.
Baiklah hati mari kita awali segala sesuatu dengan niat yang baik, kembali pada tujuan awal yang seharusnya memang menjadi acuan untuk memberikan manfaat. Takkan ada hasil yang sempurna tanpa pengorbanan yang ikhlas. Manusia hanya berencana, berusaha dan berdo’a meminta segala kebaikan dari sisi-Nya, sedangkan untuk hasil kita kembalikan kepada Sang Pemilik hati.
Hati-hati dengan hati mu….. 😊 😊
💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖💖
Karya Guru Pembimbing 1 Bulan Ke-2
Karya Guru Pembimbing 1
Bulan Ke-1 (16 Oktober s.d 15 November 2022)
Novy Citra Pratiwi, S.Pd
Judul : Wanita yang Kadang Terlupa
Jenis karya : Puisi
Kadang keluhannya hanya berupa lenguhan kecil.
Padahal kau tahu?
Seharian dia tidak henti menggerakkan seluruh syaraf di tubuhnya untuk kebaikanmu.
Kadang marahnya hanya berupa desahan pelan.
Padahal kau tahu?
Bantahan "Ah" mu membuatnya sedih berkepanjangan.
Keluhnya, marahnya, tidak pernah kau lihat.
Karena dia sengaja menyimpannya sendiri.
Kadang doanya tidak pernah kau dengar.
Padahal kau tahu?
Setiap malam saat kau terlelap, dia terjaga untuk terus menggumam namamu dalam segala harap baik.
Kadang bahagianya yang sederhana tidak pernah kau sadar.
Padahal kau tahu?
Setiap langkah baikmu adalah doanya yang terkabul dan senyumnya hanya untuk langkahmu itu.
Doanya, harapnya tidak pernah kau tahu.
Karena dia sengaja menyimpannya sendiri.
Karya Kepala Sekolah Bulan Ke-2
Karya Kepala Sekolah
Bulan Ke-2 (16 November s.d 15 Desember 2022)
Drs. H. Deni Jamaludin, M.Pd
Jenis Karya : P a n t u n
Judul : P r o fil P ela j a r P a n c a sila
R a m ain y a p a m e r a n b a t u m ulia
B a n y a k o r a n g d u d u k b e r sila
B e r t a k w a d a n b e r a k hla k m ulia
Itulah profil pelajar pancasila
Membeli obat abal-abal
Di toko obat Bapak Kurnia
Karakter berkebhinekaan glob al
Jadikan NKRI maju mendunia
Asyiknya bermain layang-layang
Permainan milik anak negeri
Lanjutkan perjuangan nenek mo y a n g
B e r g o t o n g r o y o n g m e m b a n g u n n e g e ri
Sudah lama kita bersahabat
Kini jalan sendiri-sendiri
Agar jadi bangsa bermartabat
Miliki pribadi yang mandiri
Masuk SMK jurusan otomotif
Membaca buku di bawah lentera
Jadilah pelajar yang kreatif
Agar hidupmu sejahtera
Berteduh di bawah pohon angsana
Sambil menulis kata puitis
Agar hidup lebih bijaksana
Belajarlah bernalar kritis
Rabu, 09 November 2022
Karya Kepala Sekolah
Karya Kepala Sekolah
Bulan Ke-1 (16 Oktober s.d 15 November 2022)
Drs. H. Deni Jamaludin, M.Pd
Jenis Karya : Puisi
Judul :
MUNAJAT
Mengecap manisnya munajat
bukanlah tentang nikmat dunia
bukan tentang kesejahteraan yang kasat mata
tapi tentang kelezatan yang tiada tara
bagi ruh dan jiwa
Aku ingin mengecap manisnya munajat
Beribadah, berma'rifat, bertauhid
Bersyukur hanya pada-Nya
Dzat yang maha segala
Mengecap manisnya munajat
di sepertiga malam yang senyap
berharap rahmat dan belas kasih-Nya
adalah sebuah ketenangan jiwa
Karya Guru Pembimbing 3
Karya Guru Pembimbing 3
Bulan Ke-1 (16 Oktober s.d 15 November 2022)
Lani Mulyani, S.Pd
Judul:
Jangan Pernah Menyerah
Ketika cahaya mulai datang
Ratusan rindu mulai bersatu
Menjadikan sebuah harapan
Yang selalu menyemangati dalam kegundahan
Wahai anganku
Marilah bangun
Kejarlah mimpimu
Dikala kebodohan mulai menyelimutimu
Lantunkanlah doamu
Disetiap malammu
Tenggelamkan rasa malasmu
Mari bangkit dalam keterpurukanmu
Doamu akan selalu didengar-Nya
Jangan pernah menyerah
Tekadkan jiwamu
Supaya kelak mimpi itu menjadi nyata
Karya Guru Pembimbing 2
Karya Guru Pembimbing 2
Bulan Ke-1 (16 Oktober s.d 15 November 2022)
Hanifah Munfarijah, S.Pd, Gr
Jenis Karya: Puisi
Judul :
Catatan Harian
Ada harap yang kadang sirna
Tertiup angin
Berterbangan bersama debu
Ada bingung yang kadang mendera
Mencipta suasana
Membelenggu rasa bersama sendu
Tak apalah
Memang terkadang angin goyahkan harap
Tak apalah
Memang terkadang rasa mengikat asa
Bukankah langit tak selamanya gelap
Bukankah udara tak selamaya pengap
Perubahan menyertai langkah
bersama waktu yang enggan terpisah
Tenang saja
Catatan mu akan selalu ada
Menemanimu merangkai asa
Mengukir cerita
Karya Kepala Sekolah Bulan Ke-5
Karya Kepala Sekolah Bulan Ke-5 (1 Maret s.d 31 Maret 2023) Tujuan Utama Wahai insan Suatu hari termenunglah akan segala coba Sang Ilahi ...
-
REVIEW BUKU BULAN KE-4 (1 Februari s.d 28 Februari 2023) Tantangan Membaca Bandung Barat (TMBB) V 2022 Siswa, Guru, dan Kepala Sekolah SM...
-
REVIEW BUKU BULAN KE-5 (1 Maret s.d 31 Maret 2023) Tantangan Membaca Bandung Barat (TMBB) V 2022 Siswa, Guru, dan Kepala Sekolah SMP Neger...
-
Karya Siswa Kelompok 3 Bulan Ke-1 (16 Oktober s.d 15 November 2022) Karya adalah sebuah hasil pemikiran kreatif seseorang yang tidak dapa...




